Jangan Panjang Angan-angan – Imam Al-Gazhali

allah-1Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Allohummasholli’alaasayyidina Muhammadinil Musthofaa

Nasihat Asy-Syaikh Imam Al-Gazhali tentang “Jangan Panjang Angan-angan”

Rosulullaah Saw. bersabda kepada Abdullah bin Umar:

“Jika kamu sedang berada pada pagi hari, janganlah kamu berbicara kepada dirimu sendiri tentang petang hari nanti. Jika kamu sedang berada pada petang hari, janganlah kamu berbicara pada dirimu sendiri tentang pagi hari. Jadikan hidupmu sebagai modal untuk menghadapi kematianmu, dan jadikan sehatmu sebagai modal untuk menghadapi sakitmu. Sesungguhnya kamu, wahai Abdullah, besok sudah tidak tahu siapa namamu.” [HR. Ibnu Hibban]

Diriwayatkan oleh ‘Ali Karromallaahu wajahahu., sesungguhnya Nabi Saw. bersabda:

“Ada dua hal yang paling aku takuti menimpa kalian, yaitu: menuruti hawa nafsu dan banyak angan-angan. Sesungguhnya menuruti hawa nafsu itu dapat menghalangi dari kebenaran, dan banyak angan-angan itu sama dengan mencintai dunia.”

Selanjutnya kata Beliau Saw.:

“Sesungguhnya Allaah Ta’ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai maupun yang dibenci-Nya. Jika mencintai seorang hamba, Allaah memberinya iman. Ingat, sesungguhya agama itu mempunyai anak. Jadilah kamu termasuk anak-anak agama, dan janganlah kamu menjadi anak-anak dunia. Ingat, sesungguhnya dunia itu bergerak pergi. Ingat, sesungguhnya akhirat itu bergerak maju (datang). Ingat, sesungguhnya kalian berada pada zaman untuk beramal, bukan zaman untuk dihisab. Dan ingat, sesungguhnya kalian hampir tiba pada zaman untuk dihisab yang sudah tidak berlaku amal.” [HR. Ibnu Abi-d Dunya]

Ummu Al-Mundzir menuturkan, ‘Pada suatu sore Rosulullaah Saw. muncul di tengah-tengah para sahabat, lalu beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah kalian tidak merasa malu kepada Allaah?” Mereka bertanya, ‘Kenapa kami harus malu, ya Rosulullaah?’ Beliau bersabda, “Kalian mengumpulkan sesuatu yang tidak bisa kalian jangkau, dan kalian membangun sesuatu yang tidak kalian tempati.” [HR. Ibnu Abi-d Dunya]

Sedangkan Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan, ‘Usamah bin Zaid membeli seorang budak perempuan dari Zaid bin Tsabit seharga seratus dinar dengan pembayaran tempo satu bulan. Lalu aku mendengar Rosulullaah Saw. bersabda: “Apakah kalian tidak heran terhadap Usamah yang baru membayar sampai sebulan setelah ia membeli barang? Usamah sungguh panjang angan-angannya. Demi Allaah yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, setiap saat aku merasa yakin bahwa sepasang kelopak mataku tidak akan dapat terkatup kembali sebelum Allaah mencabut nyawaku, atau aku dapat membukanya kembali dengan keyakinan bahwa aku akan bisa menutupnya sekali lagi sebelum mati. Setiap kali memakan sepotong daging aku selalu berfikir bahwa aku tidak akan bisa menelannya sampai maut mencekikku.”

Lanjut Beliau: “Wahai anak cucu Adam, jika kalian berakal, maka anggaplah diri kalian termasuk orang-orang yang sudah mati. Demi Allaah yang jiwaku berada di genggaman-Nya. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti akan datang, dan kamu sekalian tidak pernah bisa melepaskan diri.” [HR. Ibnu Abi-d Dunya dan Ath-Thabrani]

Diriwayatkan dari Abdullaah bin Abbas ra. bahwa Rosulullaah Saw. pernah buang air kecil lalu beliau melakukan tayamum. Ia lalu berkata kepada Beliau, ‘Wahai Rosulullaah, bukankah ada air di dekat anda?’ Beliua bersabda: “Bagaimana aku bisa tahu. Boleh jadi aku tidak mampu/dapat menjangkaunya.”

Diriwayatkan pada suatu hari Rosulullaah Saw. mengambil tiga batang ranting kayu. Beliau meletakkan yang sebatang di hadapannya, yang sebatang lagi di sebelahnya, dan yang sebatang lagi agak jauh darinya. Lalu Beliau bertanya kepada para sahabat, “Kalian tahu, apa artinya ini?” Para sahabat menjawab, ‘Allaah dan Rosul-Nya yang lebih tahu.’ Beliau bersabda, “Yang ini manusia, ini ajalnya, dan yang itu adalah angan-angan yang selalu dikejar-kejar oleh manusia. Akan tetapi ajal keburu menjemputnya sebelum tercapai angan-angannya.” [HR. Ahmad dan Ibnu Abi-d Dunya]

Dan Rosulullaah Saw. bersabda:

“Perumpamaan manusia itu seakan-akan dikepung oleh sembilan puluh macam sebab kematian. Dan bilamana ia mampu lolos dari semuanya, ia pasti tidak bisa mengelak dari kepikunan.” [HR. At-Tirmidzi]

Anas ra. berkata, Rosulullaah Saw. bersabda:

“Anak cucu Adam itu bisa menjadi pikun, dan ada dua hal yang menyertainya, yakni keserakahan dan angan-angan.” [HR. Muslim]

Dalam riwayat lain disebutkan:

“…dan ada dua hal bersamanya yang tetap muda, yaitu keserakahan terhadap harta dan keserakahan terhadap usia.”

Lalu kata Beliau Saw.:

“Golongan pertama dari umat ini selamat karena keyakinan dan zuhud. Dan golongan terakhir dari umat ini binasa karena kekikiran dan angan-angan.” [HR. I. Abi-Dunya]

Dalam sebuah riwayat lain, pada suatu hari Nabi Isa as.. duduk di dekat deorang kakek yang tengah menggali tanah dengan cangkul. Ia berdo’a, “Ya Allaah, tolong kembalikan angan-angan kepadanya.” Seketika sang kakek meletakkan cangkulnya lalu berbaring. Satu jam kemudian, ia berdo’a lagi, “Ya Allaah, tolong kembalikan angan-angan kepadaya.” Seketika sang kakek bangkit dan meneruskan pekerjaannya. Ketika ditanya oleh Nabi Isa tentang apa yang terjadi, sang kakek menjawab, “Ketika sedang mencangkul, jiwaku berbisik, ‘berapa lama lagi kamu akan bekerja? Padahal saat ini kamu sudah cukup tua.’ Itulah sebabnya mengapa tadi seketika aku meletakkan cangkul dan berbaring. Kemudian jiwaku berbisik lagi kepadaku, ‘Demi Allaah, betapa pun kamu harus mempertahankan hidup.’ Itulah sebabnya tadi aku lalu bangkit kembali memegang cangkul.”

Al-Hasan ra. berkata, Rosulullaah bertanya kepada para sahabatnya:

“Apakah kalian semua ingin masuk surga?” Para sahabat menjawab, ‘Tentu yaa Rosulullaah. Beliau lalu bersabda, “Kalau begitu jagan banyak angan-angan. Letakkan ajal kalian di depan mata. Dan merasa malulah kepada Allaah dengan sungguh-sungguh.” [HR. Ibnu Abu-d Dunya]

Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Mutharrif bin Abdullah mengatakan, “Seandainya tahu kapan ajal kematianku, aku khawatir akalku akan hilang. Tetapi Allaah Ta’ala telah menganugerahi hamba-hamba-Nya dengan lalai pada kematian. Bila tak ada anugerah ini, tentu mereka tidak akan merasakan kesenangan hidup, dan tidak ada pasar yang dibangun di tengah-tengah mereka.”

Al-Hasan al-Bishri memgatakan, “Lalai dan angan-angan adalah dua nikmat besar yang dianugerahkan Allaah kepada manusia. Jika tidak ada keduanya, niscaya orng-orang muslim tidak akan ada di jalan-jalan.”

Sedangkan Suftan ats-Tsauri mengatakan, ‘Aku mendengar bahwa seseorang itu diciptakan dalam keadaan dungu. Seandainya tidak begitu, tentu ia tidak bisa merasakan kesenangan hdup.’

Salman al-Farisi menuturkan, “Ada tiga orang yang aku merasa heran sehingga membuatku tertawa, yakni yang mengangan-angankan dunia padahal ia sedang diburu oleh kematian, orang yang lalai tetapi ia tidak mau menerima nasihat, dan orang yang selalu tertawa padahal ia tidak tahu apakah Tuhan semesta alam murka atau ridlo’ kepadanya. Dan ada tiga hal yang aku merasa sedih sehingga membuatku menangis, yakni perpisahan dengan orang-orang tercinta (Muhammad Saw. dan golongannya), huru-hara kiamat, dan ketika aku berdiri di hadapan Allah tanpa tahu apakah aku akan diperintahkan masuk surga atau ke neraka.”

Dalam salah satu khutbahnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Setiap perjalanan pasti membutuhkan bekal. Oleh karena itu jadikanlah takwa kepada Allaah sebagai bekal untuk perjalanan kalian ke negri akhirat. Jadilah kalian seperti orang yang sudah melihat dengan mata telanjang pahala dan hukuman yang telah disiapkan oleh Allaah. Tanamkanlah perasaan harap-harap cemas dalam hati kalian. Jangan habiskan waktu kalian sehingga hati kalian menjadi keras, lalu kalian tunduk kepada musuh kalian. Demi Allaah, tidak akan bisa leluasa berangan-angan seseorang yang tidak tahu apakah ia masih mendapati waktu pagi ketika ia sedang berada di waktu sore, dan apakah ia masih mendapatkan waktu sore ketika ia sedang berada di waktu pagi. Sangat boleh jadi, di antata waktu sore dan pagi ada kematian.”

Rosulullaah Saw. berdo’a:

“Yaa Allaah, aku berlindung kepada-Mu dari dunia yang dapat menghalangi kebajikan akhirat. Aku berlindung kepada-Mu dari hidup yang dapat menghalangi dari sebaik-baik kematian, dan aku berlindung kepada-Mu dari angan-angan yang dapat menghalangi sebaik-baik amal.” [HR. Ibnu Abi-d Dunya]

Semoga berkenan, dan semoga kita dijauhkan oleh Allaah dari kesenangan hidup dunia yang hanya sementara serta penuh dengan tipuan dan angan-angan , amiin

Wassalammu’alaikum wr.wb.

Hesti B. Anshor

Catatan: Artikel ini saya copas dari e-mail mbak Hesti di milis. Suwun mbak.

%d blogger menyukai ini: