Orang-orang Parisi & Kitab Kecil Nabi Ilyas as.

Dengan Kehendak Allah, setelah seluruh murid berkumpul di kota Damsyik, berkatalah Nabi Isa as.: “Marilah kita kembali ke Galilea, karena malaikat Allah telah berkata kepadaku, bahwa aku harus kembali ke sana!”

Sampailah Nabi Isa as. beserta para muridnya di kota Nazareth pada pagi hari Sabbat. Lalu ketika para penduduk mengetahui bahwa ia itu Nabi Isa as., maka tiap orang di kota itu ingin melihatnya. Khalayak pun berjejal-jejal, sehingga Zakheus, seorang pemungut pajak yang berperawakan pendek tidak dapat melihat Nabi Isa as.

Maka demi melihat sang Nabi, Zakheus pun memanjat pohon Jummaiz hingga ke puncaknya, dan ia pun menunggu di atas pohon itu hingga rombongan Nabi Isa as. lewat di bawahnya dalam perjalanannya menuju ke tempat pertemuan.

Dan ketika Nabi Isa as. melewati pohon itu, ia pun mengarahkan pandangannya ke atas sambil berkata: “Turunlah ya Zakheus, sebab aku akan tinggal di rumahmu !”. Lalu turunlah Zakheus dengan bergegas diliputi kegembiraan yang meluap-luap, ia pun mencium sang Nabi dan mengadakan suatu jamuan besar.

Maka menggerutulah orang-orang Parisi, kata mereka kepada murid-murid sang Nabi: “Mengapa guru kalian itu pergi untuk makan bersama dengan kaum pemungut pajak dan orang-orang yang berdosa??”

Nabi Isa as. menjawab: “Untuk tujuan apakah ketika seorang dokter itu mengunjungi rumah seorang yang sakit ? Katakanlah kepadaku, nanti aku akan menerangkan kepada kalian mengapa aku harus pergi ke sana”. Para murid menjawab: “Untuk menyembuhkan penyakit ya Guru”. Kata Nabi Isa as.: “Kalian telah berkata benar, karena orang-orang yang sehat itu tidak memerlukan seorang dokter, hanya orang-orang yang sakit lah yang memerlukannya!”.

Bersabdalah Nabi Isa as.: “Demi Allah aku yang berdiri di hadhirat-Nya, bahwa Allah telah mengutus nabi-nabi dan para khadam-Nya ke dunia ini agar bertobatlah orang-orang yang berdosa itu. Dan tidaklah Dia mengutus mereka kepada orang-orang yang saleh karena mereka itu tidak memerlukan uraian taubat, sebagaimana orang yang telah bersih tidak memerlukan untuk pergi ke kamar mandi.

Tetapi aku katakan kepadamu jika kalian ini benar-benar orang Parisi, niscaya akan bergembiralah kalian dengan pergaulanku bersama orang-orang yang berdosa itu, karena demi keselamatan mereka.

Katakanlah kepadaku, tahukah kalian ihwal asal-usul kalian? Dan mengapa dunia ini menerima orang-orang Parisi? Sungguh dapat aku pastikan bahwa kalian tidak mengetahuinya, maka dengarkanlah uraianku ini.

Bahwasanya kekasih Allah, Enokh (Nabi Idris as.), yang telah sungguh-sungguh berjalan bersama Allah dengan tidak mempedulikan dunia ini, telah Allah pindahkan ke surga Firdaus. Dan Enokh akan tinggal di Firdaus hingga Hari Pembalasan nanti, karena nanti pada hari-hari terakhir dari dunia ini, dia akan kembali lagi ke dunia bersama Elia (Nabi Ilyas as.) dan bersama seorang lagi.

Lalu ketika manusia telah mengetahui akan hal itu, mulailah mereka mencari Allah Pencipta mereka, demi mengharapkan Firdaus. Adapun arti hurufi dari perkataan Firdaus dalam bahasa Kan’ani adalah “mencari Allah”. Karena dari daerah Kan’an lah istilah perkataan Firdaus itu berasal, dipakai oleh mereka untuk memperolok-olok orang-orang yang saleh, disebabkan oleh asyiknya orang-orang Kan’an itu menyembah berhala-berhala buatan tangan manusia.

Dan atas dasar itulah, apabila orang-orang Kan’an itu melihat seorang yang meninggalkan kehidupan dunia demi berkhidmat kepada Allah, mereka akan memanggilnya dengan maksud mengejek dengan panggilan Firris, yakni “mencari Allah”. Seakan-akan mereka mengatakan kepadanya, wahai orang gila, engkau tidak punya patung-patung berhala, maka sesungguhnya engkau hanya menyembah angin belaka, dari itu pikirkanlah hari kemudianmu dan sembahlah berhala-berhala kita ini!”

Kemudian Nabi Isa as. berkata: “Sungguh kukatakan kepadamu bahwa semua para kudus Allah dan Nabi-nabi-Nya itu adalah orang-orang Parisi, bukan hanya menyandang nama saja seperti kalian, tetapi mereka buktikan dengan amal perbuatan!

Karena, mereka dengan segala tindak-tanduknya itu benar-benar mencari Allah Sang Pencipta, mereka meninggalkan negeri-negeri dan harta benda mereka demi kecintaan kepada Allah, dijualnya semua harta mereka kemudian semua hasilnya disedekahkan kepada kaum fakir miskin demi kecintaan kepada Allah”

Bersabdalah Nabi Isa as.: “Demi Allah, pernah di zaman Elia (Nabi Ilyas as.), kekasih Allah serta Nabi-Nya itu, ada 12 bukit di Israel yang ditempati oleh 17.000 orang-orang Parisi, dan tidak ada seorang pun diantara manusia yang begitu banyak itu yang ditolak Allah, mereka semuanya adalah pilihan-pilihan Allah!

Adapun pada masa kini, di Israel juga ada lebih dari 100.000 orang-orang Parisi, semoga insya Allah bisa ditemukan diantara tiap 1000 orang Parisi ada seorang yang terpilih!”

Kemudian menjawablah kaum Parisi itu dengan kemarahan: “Apakah kami ini semuanya manusia-manusia yang tertolak? Dan engkau anggap agama kami juga tertolak?”

Nabi Isa as. menjawab: “Aku tidak menganggap agama kaum Parisi yang asli itu tertolak, bahkan sangat terpuji dan aku bersedia untuk mati karenanya. Akan tetapi, marilah kita lihat apakah kalian ini orang-orang Parisi sejati?”

Kemudian Nabi Isa as. melanjutkan uraiannya: “Bahwa Elia (Nabi Ilyas as.) kekasih Allah itu telah menulis demi untuk mengabulkan permohonan muridnya, Elisa (Nabi Alyasa as.), sebuah kitab kecil dimana telah dihimpun didalamnya hikmah-hikmah insani dan syariat Allah!”

Maka terperanjatlah orang-orang Parisi itu ketika mereka mendengar ihwal kitab Elia, karena mereka mengetahui dari adat istiadat mereka bahwa tidak ada seorang pun yang masih memelihara ajaran-ajaran Elia. Dari itu mereka hendak pulang dengan alasan pekerjaan-pekerjaan yang harus mereka selesaikan.

Di saat itu Nabi Isa as. berkata: “Andaikata kalian ini orang-orang Parisi sejati, niscaya kalian akan tinggalkan segala pekerjaan dan kalian akan perhatikan ini, karena orang-orang Parisi itu hanya mencari Allah semata!”

Dari itu mereka membatalkan beranjak, dengan agak ketakutan untuk mendengarkan Nabi Isa as. yang akan menyampaikan uraiannya. Bersabdalah Nabi Isa as. menguraiakan apa-apa yang pernah Elia (Nabi Ilyas as.) tuliskan:

“Elia hamba Allah, begitulah ia memulai kitab kecil itu, menulis ini untuk semua orang yang ingin berjalan bersama Allah, Pencipta mereka.

Bahwa barangsiapa yang suka belajar banyak maka ia akan sedikit dalam takut kepada Allah. Karena barangsiapa yang sungguh takut kepada Allah ia akan merasa cukup untuk mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah saja!

Bahwa barangsiapa mencari kalimat-kalimat yang indah, maka ia bukanlah mencari Allah Yang Maha Melaknat dosa-dosa kita!

Mereka yang ingin mencari Allah, harus menutup rapat pintu-pintu dan jendela-jendela rumah mereka. Karena Tuan itu tidak menyukai adanya sesuatu yang tidak Ia sukai di luar rumahnya. Dari itu jagalah perasaan-perasaanmu dan jagalah hatimu, karena Allah tidak berada di luar kita, tidak berada di dunia yang Dia benci!

Barangsiapa yang akan mengerjakan amal-amal saleh, maka ia harus memelihara dirinya, karena tidak ada gunanya bila sesorang itu mampu meraih segala isi dunia tetapi ia kehilangan dirinya sendiri!

Mereka yang mau mengajar orang lain, harus berkelakuan lebih mulia dari orang lain, karena tidak dapat diambil suatu manfaat dari seseorang yang dikenal lebih rendah dari kita!

Maka bagaimanakah seorang yang berdosa itu akan mampu memperbaiki kehidupannya, apabila ia mendengar bahwa yang mengajarnya itu lebih jahat daripadanya!

Barangsiapa yang mencari Allah, maka ia harus melarikan diri dari percakapan dengan manusia. Karena dikala Musa as. berada sendirian di atas gunung Sinai, ia menemukan Allah dan berbicara dengan-Nya sebagaimana seorang sahabat berbicara dengan sahabatnya!

Barangsiapa yang mencari Allah, ia harus keluar sekali dalam setiap 30 hari untuk ke tempat dimana manusia berada. Karena dalam satu hari itu sudah cukup bisa dikerjakan pekerjaan-pekerjaan untuk dua tahun dari tugas khusus seorang pencari Allah!

Ia berkewajiban apabila berjalan, untuk tidak melihat kecuali kepada kedua kakinya!

Ia berkewajiban apabila bercakap-cakap, untuk tidak mengatakan kecuali yg perlu-perlu saja!

Apabila mereka makan, mereka harus berdiri meninggalkan tempat makan sebelum mereka kenyang!

Setiap hari, yg harus mereka pikirkan adalah bahwa mereka tidak akan hidup hingga hari esok!

Mereka harus menghabiskan waktu mereka sebagaimana seorang manusia yang sedang menghitung napas-nafas terakhirnya!

Satu helai baju dari kulit hewan hendaknya dianggap cukup!

Segumpal tanah itu harus tidur di atas kulit!

Tidur dua jam pada tiap malam itu hendaknya dianggap cukup!

Dia harus tidak membenci seseorang kecuali dirinya sendiri!

Diwaktu berdiri sembahyang mereka diharuskan untuk takut sebagaimana mereka sedang berdiri di muka sidang Hari Pembalasan yang akan datang itu!

Maka kerjakanlah semua itu demi berkhidmat kepada Allah beserta syariat yang telah dikaruniakan-Nya kepadamu dengan perantaraan Musa as., karena hanya dengan jalan inilah kamu akan menemukan Allah!

Dan sungguh akan kamu rasakan pada tiap zaman dan tiap tempat, bahwa engkau berada didalam Allah dan Allah ada didalam engkau!

Begitulah isi kitab kecil Elia itu wahai kaum Parisi ! Dari itu, kuulangi lagi apa yang telah kukatakan kepada kalian, jika kalian benar-benar orang Parisi niscaya kalian akan bergembira dengan kehadiranku di sini, karena Allah akan merahmati orang-orang yang berdosa!”

Berkatalah Zakheus di waktu itu, “Ya tuan, saksikanlah bahwa aku akan membelanjakan, demi kecintaan kepada Allah, empat kali lipat dari apa yang pernah aku pungut dengan jalan riba”

Nabi Isa as. menjawab: “Hari ini tercapailah keselamatan bagi rumah ini!

Benar, benar, bahwa banyak dari kalangan pemungut pajak, para pezinah, dan orang-orang yang berdosa itu akan menuju Kerajaan Allah. Sedang mereka yang menganggap diri mereka orang-orang saleh, akan menuju ke api yang menyala-nyala untuk selama-lamanya!”

Maka ketika orang-orang Parisi itu mendengar yang demikian, keluarlah mereka dengan kemarahan.

Nabi Isa as. berkata: “Katakanlah kepadaku, apakah orang-orang Parisi pada zaman sekarang ini benar-benar Parisi? Apakah mereka itu khadam-khadam Allah? Sama sekali tidak! Bahkan kukatakan kepadamu, bahwasanya tidak ada di sini di muka bumi ini yang lebih jahat daripada seorang yang berlindung dengan ilmu dan pakaian agama demi menutupi kejahatannya!”

Zamzam A J Tanuwijaya
Bintaro, 24 Oktober 2009

%d blogger menyukai ini: