Datang Semata untuk Bersaksi

rumiKehadiran kita di ruang sidang Sang Hakim ini [1]
untuk membuktikan kebenaran pernyataan kita,
“kami bersaksi,” ketika dalam Perjanjian itu kita
ditanyai, “bukankah Aku Tuhanmu?” [2]

Karena kita telah membenarkan, maka dalam
persidangan ini ucapan dan tindakan kita menjadi
saksi dan bukti bagi kesepakatan itu.

Ruang sidang Sang Hakim bukanlah tempat untuk membisu.
Bukankah kita datang kesini untuk memberikan persaksian?

Wahai saksi, berapa lama lagi engkau diperiksa di ruang
sidang Sang Hakim? Segeralah berikan pernyataanmu.

Engkau telah dipanggil ke sini, dan telah datang engkau, [3]
semata untuk bersaksi.

Lalu mengapakah engkau bersikukuh diam?
Di ruang tertutup ini engkau ikut menutup mulut
maupun tanganmu. [4]

Kecuali engkau berikan pernyataan itu, wahai saksi,
bagaimana caranya engkau akan keluar dari sidang ini? [5]

Inilah urusanmu di alam ini.
Kerjakan tugasmu dan segeralah berlalu, jangan
memanjangkan yang ringkas, sampai melelahkan dan
menjengkelkan dirimu sendiri.

Bergantung kepada perjanjian yang telah engkau
sepakati: apakah kiprah pernyataanmu perlu digelar
disini selama seratus tahun atau sekejap mata;
serahkan amanah itu dan bebaskan dirimu sendiri. [6]

Apakah yang perlu dinyatakan?
(Terungkapnya) khazanah yang tersembunyi di dalam
dirimu: melalui ucapan, tindakan atau apa saja.

Tujuannya adalah untuk mengungkapkan rahasia yang
tersembunyi di dalam inti substansi jiwamu.
Sementara substansi sejati dirimu itu tetap;
refleksinya, berupa kata atau amal, langsung
menghilang segera setelah ditampilkan.

Jejak emas pada Batu-uji tidaklah menetap, [7]
tetapi emasnya sendiri tetaplah terpuji dan
murni.

Demikianlah, shalat, puasa dan jihadul-akbar ini,
tidaklah terus tampil diamalkan, tetapi
ruh mereka tetap senantiasa terpuji.

Jiwa merefleksikan bentuk-bentuk kata dan amal
semacam ini: substansinya menyentuhkan diri kepada
Batu-uji berupa Perintah Ilahiah.

Seakan dia berkata, “imanku sempurna, inilah
saksi-saksinya!” Jadi, jika ada keraguan maka itu
berkaitan dengan para saksi.

Ketahuilah, kebenaran para saksi mestilah diperiksa:
sarana untuk mengetahui benar tidaknya adalah pada
keikhlashan; kebenaranmu selaras dengan keikhlasanmu.

Persaksian kebenaran kata-katamu adalah dalam
memenuhinya ketika diuji; sedangkan persaksian
kebenaran amalmu adalah dalam mengerjakan amal yang
sesuai dengan Perjanjian.

Persaksian ucapan tertolak jika mengatakan hal
yang salah; sedangkan persaksian amal tertolak
jika tidak lurus.

Ucapan dan tindakanmu seyogyanya tidak saling
bertentangan, agar persaksianmu segera diterima.

“Dan usahamu beraneka-ragam;” dirimu [8]
dalam pertentangan: engkau memintal pada siang hari,
tetapi pada malam hari kau urai kembali pintalanmu. [9]

Siapakah yang mau mendengar pernyataan yang penuh
pertentangan, kecuali Sang Hakim memperlihatkan
kelapangan-Nya?

Kata dan amal-tindakan mengejawantahkan fikiran
dan maksud tersembunyi, keduanya membongkar rahasia
yang semula terhijab.

Wahai pembantah, selama engkau menentang para
Waliyullah, maka mereka akan menentangmu. [10]
“Maka tunggulah mereka, sesungguhnya mereka
menunggu pula.” [11]

 

(Rumi: Matsnavi, V no 174 – 182, 246 – 260, terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson)

Catatan:

[1] Ruang sidang = alam dunia ini.

[2] QS [7]: 172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

[3] Telah dihadirkan, telah dihidupkan di alam yang ini, melalui kelahiran kita.

[4] Umumnya jiwa, ketika hadir di alam ini, telah melupakan rumah sejatinya dan Perjanjiannya dengan Tuhan, sehingga hanya bisa membisu.

[5] Sejauh mana Perjanjian itu dipenuhi akan menentukan cara beranjak dari alam dunia ini ke alam-alam selanjutnya.

[6] Setiap orang satu tugas unik. Para nabi adalah contoh terbaik dalam kiprah persaksian perjanjian. Ada diantara mereka yang kiprah tugasnya berlangsung selama ratusan tahun.

[7] “Batu-uji:” zaman dulu kemurnian emas diperiksa dengan menggosokkannya pada Batu-uji.

[8] QS [92]: 4. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.

[9] Mengingatkan kepada QS [16]; 92, “… dan janganlah engkau seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…”

[10] Periksa misalnya QS[10]: 62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

[11] QS [44]: 59. Maka tunggulah; sesungguhnya mereka itu menunggu (pula).

Sumber: http://ngrumi.blogspot.com/2009/10/datang-semata-untuk-bersaksi.html

%d blogger menyukai ini: