Berhujjah dengan Takdir

Urip iku sadermo nglakoni (hidup itu sekedar menjalani). Segala sesuatu telah dituliskan dalam sebuah kitab yang terpelihara. Nilai seorang hamba adalah pada kepasrahannya dalam menjalani takdir, yakni apakah kita mampu bersyukur atas apa yang dianugerahkan dan yang tidak dianugerahkan kepada kita. Kisah yang diambil dari hadits berikut semoga bisa lebih memahamkan kita akan takdir.

Dari Abi Huroiroh ra., ia berkata, Rosulullaah Saw. bersabda:

“Adam as. dan Musa as. Saling berhujjah di sisi Robb mereka, maka hujjah Adam mengalahkan Musa. Musa berkata, ‘Engkau, Adam yang diciptakan oleh Allaah dengan tangan-Nya, meniup padamu dari ruh-Nya, memerintahkan para malaikat-Nya sujud kepadamu, menempatkanmu di surga-Nya, kemudian engkau menurunkan manusia ke bumi karena kesalahanmu?’

Adam menjawab, ‘Engkau adalah Musa yang dipilih oleh Allaah dengan risalah dan kalam-Nya, memberikan kepadamu Alwah (lembaran-lembaran Taurat) yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu dan mendekat kepadamu untuk mengajak bicara, berapa lama engkau ketahui Allaah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?’

Musa menjawab, ‘Empat puluh tahun.’

Adam bertanya lagi, ‘Apakah engkau menemukan di dalamnya, ‘Dan durhakalah Adam kepada Robb dan sesatlah ia’?’

Musa menjawab, ‘Benar.’

Adam berkata, ‘Apakah engkau mencela saya atas perbuatanku yang telah ditentukan oleh Allaah bahwa aku akan melakukannya sebelum Dia menciptakanku selama empat puluh tahun?’

Rosulullaah Saw. bersabda, ‘Maka hujjah Adam mengalahkan Musa’.”

[HR. Bukhori dan Muslim]

Sumber: Tulisan ini di copas dari e-mail Mbak Hesti di sebuah milis.

%d blogger menyukai ini: