Buku ‘Guru Sejati dan Muridnya’ : Pengantar Penerjemah

Cover Buku Guru Sejati dan MuridnyaBayangkanlah diri Anda sebagai seorang yang telah lelah dan jenuh mencari makna kehidupan di dunia ini. Bayangkan diri Anda yang jemu melihat dunia ini hanya sebagai tarikan-tarikan persoalan senang dan sedih, berhasil dan gagal, mendapatkan keuntungan dan kebahagiaan; demikian pula dengan berbagai tekanan kehidupan, hantaman kesedihan dan terpaan penderitaan. Anda, tanpa menyadarinya, telah terbawa tanpa daya oleh pusaran kehidupan dunia: kelahiran, dibentuk oleh orangtua dan lingkungan, bersekolah, berkeluarga, bekerja dan mengejar karir, mendidik anak, dan seterusnya.

Pada suatu titik Anda tersadar, apa makna dari semuanya ini. Apakah kehidupan hanyalah sekadar pergantian episode senang dan sedih, baik dan buruk, hingga datang saat kematian kelak? Apakah benar-benar tidak ada makna yang lebih hakiki daripada sekadar mencoba menggapai kesuksesan, memiliki pendapatan yang cukup untuk hidup senang dan mempersiapkan bekal pendidikan anak-anak? Bukankah itu berarti bahwa kita juga hanya mengarahkan anak-anak kita menuju pengulangan-pengulangan tanpa makna yang persis sama dengan yang kita jalani? Sebuah rutinitas kehidupan yang juga akan memerangkap mereka, sama seperti kita yang telah terperangkap di dalamnya.

Bayangkan ketika Anda tersadar bahwa ‘agama’ yang selama ini diajarkan pada Anda hanyalah ritual tanpa makna batin. Bahwa agama seakan-akan hanyalah seleksi untuk memasuki surga atau neraka berdasarkan banyaknya pahala. Buku-buku yang Anda baca semuanya langsung menjelaskan cara, tanpa bisa menerangkan landasan yang paling fundamental: Apa arti semua ini sebenarnya? Apakah kehidupan akan sedangkal ini, hingga hari kematian kelak? Didiktekan kepada Anda bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, tapi beribadah yang seperti apa? Bisakah Anda tekun melaksanakan ibadah tanpa sedikit pun memahami maknanya?

Bayangkan ketika Anda mulai berani jujur pada diri sendiri, bahwa kitab suci yang ketika Anda mencoba membacanya terasa abstrak, acak dan tak terjangkau maknanya. Anda mulai bertanya-tanya, ketika kitab suci memanggil ‘Wahai orang-orang yang beriman..’, benarkah Anda termasuk di dalamnya? Apa yang bisa membuktikannya? Dan Anda mulai tidak lagi merasa yakin bahwa Anda tidak termasuk ke dalam kaum yang disebutkan di sana, ketika kitab suci berbicara tentang golongan manusia yang tersesat.

Maka Anda pun mulai mencari panutan, orang yang dapat Anda jadikan pembimbing kehidupan Anda. Mulailah Anda mengikuti pengajian ini dan itu. Memaksakan diri untuk meraih serpihan makna yang mungkin terserak di dalamnya. Tapi ternyata, setelah sekian lama, Anda tidak juga memperolehnya.

Pada satu titik, ada hujaman pertanyaan yang mendobrak keluar dari kepala Anda: mengapa kata ‘Islam’ lebih banyak disebutkan daripada kata ‘Allah’? Mengapa semuanya hanya diatasnamakan ‘demi Islam’, dan bukan ‘demi Allah’? Mengapa semua hanya mengingat ‘Islam’, dan seakan melupakan Allah? Di mana Allah? Akhirnya Anda mulai merindukan hakikat.

Dalam keputusasaan, ketika kehampaan hidup yang demikian getir tak bermakna terasa begitu menusuk, Anda bersujud dan menangis. Anda berdoa penuh harap pada-Nya, pada Dia yang Anda percaya bahwa Dia Maha Mendengar. Anda panjatkan doa bahwa Anda membutuhkan-Nya, bahwa Anda menginginkan pemahaman akan arti ini semua. Anda memohon untuk ditunjukkan jalan pulang, untuk kembali kepada-Nya. Anda merasa tidak mengerti apa-apa tentang Allah, Tuhan yang seharusnya Anda sembah. Anda merasa hanya secara mekanistik berlaku menyembah sesuatu yang belum Anda pahami. Hanya setitik harapan yang menjadi setitik benih permohonan Anda, seberkas keyakinan bahwa Dia Maha Mendengar doa Anda. Setitik harapan bahwa kelak Dia akan bersedia mengajarkan pada Anda, membuka diri-Nya mengenai siapa Dia sebenarnya.

Di bawah rahmat-Nya, dengan pertolongan-Nya, tanpa Anda sadari, Anda mulai ditunjuki-Nya. Pada suatu hari, dipertemukan-Nya Anda dengan seseorang yang memahami sepenuhnya apa yang sedang dan pernah Anda lalui, tanpa Anda bercerita sepatah kata pun. Dengan caranya, ia membuat Anda paham bahwa tidak ada yang salah dalam kehidupan Anda selama ini. Ia menjelaskan bahwa semua kegagalan dan kegelisahan ini hanyalah semata-mata sebuah panggilan sayang dari-Nya kepada Anda, supaya Anda tersadar bahwa Anda kini telah melupakan hakikat makna kehidupan Anda, sehingga tersesat menjauh dari jalan lurus-Nya. Semuanya hanyalah undangan-Nya supaya Anda kembali menyadari kehadiran nafs, diri yang lebih sejati dalam diri Anda, dan supaya Anda kembali mencari jalan pulang.

Sedikit demi sedikit, semakin lama Anda tidak bisa memungkiri perasaan bahwa dia mengetahui dan memahami segalanya tentang diri Anda, juga tentang seluruh kehidupan Anda. Anda tidak bisa lagi memungkiri bahwa pengajarannya terasa sangat menyegarkan bagi sesuatu yang ada jauh di dalam diri Anda, entah apa namanya. Dengan penuh kehati-hatian, sedikit demi sedikit, hati Anda mulai percaya padanya. Lambat laun keinginan Anda untuk berguru padanya semakin tumbuh kokoh dalam diri, demi setitik pengetahuan tentang seruas jalan setapak untuk pulang menuju Allah.

Dan akhirnya, pada saatnya Anda telah matang dan siap, ia membuka dirinya, mengatakan siapa dia sebenarnya. Allah sendirilah yang telah mengantar Anda untuk bertemu dengannya di suatu titik dalam kehidupan Anda, dan sudah menjadi tugasnyalah untuk menjemput Anda dan mengantar Anda pulang kembali pada-Nya. Dia telah menerima tugas Allah untuk membimbing orang-orang yang rindu akan jalan taubat untuk pulang kepada-Nya, sebagai seseorang yang Allah telah memberinya tugas kelahiran sebagai seorang mursyid, seorang pembimbing yang atas izin Allah telah diberi-Nya kemampuan hakiki untuk menunjukkan jalan menuju Allah Ta‘ala.

Sekarang, dari sekian banyak orang yang datang menemuinya untuk segala macam keperluan, bayangkanlah bahwa Anda merupakan salah satu dari sekelompok kecil orang yang diizinkan Allah untuk menjadi muridnya, sebagai bagian dari sedikit orang yang menjalani setiap aspek kehidupan langsung di bawah tuntunan dan bimbingan seorang Guru, demi membangun sebuah kerangka pertaubatan dan pengabdian kepada Allah Ta‘ala.

Buku ini, yang ada di hadapan Anda, merupakan salinan dari kata-kata seorang mursyid sejati, seorang Guru (dengan G kapital) yang memiliki tugas kelahiran dari Allah sebagai seorang pembimbing, yang telah Allah beri kemampuan hakiki untuk menunjukkan setapak jalan taubat untuk pulang menuju Allah Ta‘ala.

Inilah salinan dari kata-katanya yang disampaikan kepada sekelompok kecil murid-muridnya. Di dalamnya dijelaskan cara seorang Guru Sejati dalam membimbing murid-muridnya untuk mengenal jiwanya sendiri, sebagai langkah awal untuk berjalan menuju Allah*. Di dalamnya juga dijelaskan bagaimana seorang salik (penempuh jalan taubat) harus bersikap dalam rangka mendidik dan mendisiplinkan dirinya sendiri. Di dalamnya juga diisyaratkan tentang berbagai rintangan yang harus dihadapi selama menempuh perjalanan.

Bagi Anda yang beruntung, yang telah dipertemukan Allah dengan seorang mursyid hakiki dalam kehidupan, buku ini akan membantu Anda dalam memahami fenomena-fenomena yang muncul dalam pembimbingan seorang mursyid terhadap murid-muridnya. Dan bagi Anda yang belum memilikinya, ataupun berharap suatu saat Allah mempertemukan Anda dengan seorang mursyid sejati, maka buku ini dapat menjawab keingintahuan Anda mengenai apa yang terjadi di seputar interaksi antara seorang Guru Sejati dengan murid-muridnya.

*******

Tidak mudah menerjemahkan kata-kata dari seseorang yang berada dalam tingkatan nafs rahmaniyyah, Bawa Muhaiyaddeen, yang oleh penerjemah pertama (dari bahasa Tamil ke dalam bahasa Inggris), Dr dan Mrs. Ganesan, dikatakan bahwa kalimat-kalimat bahasa Tamilnya mungkin lebih indah dari seorang Shakespeare seandainya dia berbahasa Tamil. Apalagi bagi saya yang bukan berangkat sebagai penerjemah profesional, melainkan hanya dilatarbelakangi sebuah niat agar teman-teman bisa turut membaca dan menikmati kesegarannya.

Dalam proses penerjemahan, saya sedikit banyak memahami kesulitan para penerjemah pertama (dari bahasa Tamil), bahwa bagian yang teramat sulit adalah bagaimana menjaga ‘rasa’ dan makna esensial dari kalimat-kalimatnya agar tidak lenyap dalam proses peralihan bahasa, ditambah lagi bahwa buku di hadapan Anda ini merupakan hasil proses peralihan bahasa yang kedua (dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia). Hampir semua buku beliau merupakan salinan dari kata-katanya yang diucapkan secara lisan yang dipindahkan ke dalam bentuk tulisan. Di sisi lain, saya sedapat mungkin berusaha menghindari istilah-istilah yang rumit, dan sebisa mungkin menggunakan struktur bahasa maupun istilah yang sederhana dan mudah dipahami.

*******

Dalam kesempatan ini pula, walaupun bukan saya yang mengarang buku ini, sebagai tanda terima kasih, pertama-tama saya ingin mempersembahkan penerjemahan buku ini kepada seorang bapak sepuh di wilayah peraduan matahari barat khatulistiwa, yang tentu saja sama sekali bukan tanda terima kasih yang layak baginya. Sesempurna- sempurnanya tanda terima kasih yang layak dipersembahkan bagi Beliau, adalah ketika sang anak telah berhasil berjuang untuk mengenal Diri Sejatinya, ketika sang anak berhasil memahami sepenuhnya mengenai apa yang telah ditetapkan Allah sebagai tugas kelahirannya, ketika perjuangan seorang anak melawan dirinya sendiri telah ‘membuat-Nya percaya’ untuk menyematkan secercah api kesucian di dalam dada. Karena saya masih sangat jauh dari meraih pengenalan diri, inilah persembahan kecil saya bagi beliau yang dapat saya bawakan.

Yang kedua adalah untuk keluarga Depok tercinta, bagi tuan rumah beserta sang istri, juga sang adik serta adik iparnya, juga dua orang mentor kami di sana, yang telah menyediakan surga mungil tempat tinggal mereka menjadi tempat kami berkumpul dan mengaji, shalat berjamaah di akhir malam, ditambah dengan segala macam makanan dan minuman, whiteboard dan spidolnya, memfasilitasi kami serta membiarkan kami menyita malam-malam istirahat dan waktu untuk keluarga mereka, menerima segala pertanyaan dan keluh-kesah kami selama bertahun-tahun semenjak awal sekali kami mengikuti kajian-kajian hingga sekarang, pada saat penerjemahan buku ini dimulai.

Tidak lupa, juga untuk belahan jiwa sejatiku tersayang, sang kembaran sayapku, semoga kita berdua semakin dikaruniai-Nya pemahaman bahwa hanya ketika sepasang sayap mengepak serentak dan bersama-samalah kita dapat terbang melintasi batas cakrawala, terbang menuju-Nya, untuk sujud berkenalan dengan-Nya.

Untuk semua saudara-saudaraku tercinta, saya persembahkan sekeping kecil pecahan kaca ini untuk melengkapi kerangka sebuah cermin agung yang sedang kita bangun bersama-sama, agar citra agung nama-nama-Nya dapat terpantul di permukaannya.

Untuk ibunda tercinta, atas segala bentuk pengorbanannya yang tak terkira bagi anaknya yang selalu membuat masalah dan tak tahu terima kasih ini. Tidak akan pernah saya mampu mengembalikan segala pengorbanan maupun curahan kasih sayangnya. Semoga Allah-lah yang menyayangi Ibu dengan limpahan cinta sejati-Nya yang Maha Agung.

Semoga Dia, Sang Maha Pemberi Rahmat dan Berkah berkenan menjadikan itu semua sebagai amal shalih kita, yang membuat-Nya merasa percaya untuk menyingkapkan sedikit cadar wajah-Nya yang Mahasuci pada kita semua.

Jakarta,

20 Ramadhan 1423 H,
24 November 2002 M,

Penerjemah,
Herry Mardian

*) Perhatikan hadits yang termasyhur di kalangan penempuh jalan menuju Allah, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu.” Siapa yang ‘arif (sepenuhnya telah memahami) tentang nafs (jiwa)-nya sendiri, maka ia akan ‘arif pula tentang Rabb-nya.

Juga kata-kata sahabat Ali r.a, “Awaluddiina ma’rifatulLah.” Awalnya ad-diin (agama) adalah ‘arif tentang Allah.

Buku “Guru Sejati dan Muridnya” dapat dipesan melalui:

Avan Noer (021)7076-5799, 0812-902-3152
avan [at] iss [dot] co [dot] id

Nanang Sobari (Apuy), 0856-240-67-250.
http://tokobukusobari.blogsome.com/

Sumber: suluk.blogsome.com
Lihat juga:  Resensi Buku Guru Sejati dan Muridnya.

%d blogger menyukai ini: